Thursday, December 8, 2011

MALIGI


Maligi adalah sebuah kampung kecil di  wilayah Sumatra barat. Kampung ini terletak sekitar 30 km dari ibu kota Kabupaten Pasaman Barat. Dipisahkan oleh sebuah sungai yang bermuara ke laut, Maligi selama ini terisolasi. Dihuni oleh  2000an kepala keluarga yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan dan petani.
Muaro Maligi





Maligi memiliki laut dan pantai yang indah. Kampung ini memiliki sungai yang melingkarinya dan alirannay berakhir di lautan Samudra Hindia. Mayoritas penduduknya sendiri  adalah suku Minang, namun semenjak 1997, di buka sebuah perusahaan sawit yang  kemudian mendatangkan para pencari kerja dari berbagai wilayah di Indonesia, bahkan dari Sumba dan Flores.
Untuk mencapai Maligi kita dapat menempuh dua  jalur. Pertama bisa dilakukan  melalui Simpang Empat ke arah Batang Pasaman, melewati Perkebunan sawit PT PHP. Jarak yang ditempuh untuk sampai ke kampung Maligi melalui jalan ini adalah 58 Km. Jalanan sepanjang perkebunan kelapa sait kondisinya tidaklah begitu bagus. Jalanan hanya dari timbunan tanah tanpa batu kerikil, seringkali karena dilewati truk-truk pengangkut sawit, jalanan menjadi berlubang dan berair jika musim hujan datang.
Kedua, dapat dilakukan melalui Simpang Empat melalui Kecamatan Sasak berjarak  20 KM. Kemudian menaiki sampan sekitar 10 menit. Perjalanan dengan sampan tidak hanya sampai disini. Pengguna jalan masih akan menaiki dua sampan lagi jika musim penghujan tiba. Pertama di daerah yang disebut “Bancah Galinggang” yang berupa rawa yang jika hujan airnya kan meluap kea rah laut dan membelah jalan selebar 5 M. Tak berapa jauh dari Bancah Galinggang akan menemui sungai kecil lagi yang juga bermuara ke laut bernama “Suak”. Jika musim hujan kondisi yang sama juga akan terjadi, air akan meluap kelaut sehingga jalan terputus dan melewatinya harus menggunakan sampan. Tidak hanya itu, jalanan yang ditempuh hanya terdiri dari jalan setapak yang pas-pas an untuk ban motor.
Pada hakikatnya, jarak antara Sasak dan Maligi hanyalah 9 KM saja. Namun karena kondisi jalan yang rumit, membuat Maligi terasing dan sulit di jangkau. Semenjak Pasaman masih satu hingga terjadinya pemekaran, Maligi masih belum di sentuh pembangunan. Tidak hanya pembangunan jalan, bahkan di Maligi juga tidak tersedia listrik. Masyarakat masih mengandalkan kemampuan sendiri untuk membeli diesel yang hanya dihidupkan pada malam hari dari magrib hingga jam 11 malam.


3 comments:

  1. Let's keep writing cuuyy.....
    explore yourself..!!! :D

    ReplyDelete
  2. hahahahhah,,i think so

    lets gives our best

    ReplyDelete
  3. hehehehe..alahmdulillah kini listrik sudah ada, jembatan dari sasak sudah ada dan jalan baru sampai bancah galinggan, namun bila hujan masih naik rakit/ponton

    ReplyDelete